PERKAP NOMOR 24 TAHUN 2007

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2007

TENTANG

SISTEM MANAJEMEN PENGAMANAN ORGANISASI, PERUSAHAAN DAN/ATAU INSTANSI/LEMBAGA PEMERINTAH

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang    : a.     bahwa  dalam  rangka  mewujudkan  keamanan  dalam  negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan,  pengayoman,  dan  pelayanan  kepada masyarakat, dipandang perlu melibatkan dan meningkatkan potensi  pengamanan  swakarsa  untuk  membantu  salah  satu tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia; b.     bahwa Satuan Pengamanan  merupakan  bentuk pengamanan swakarsa yang bertugas membantu Polri di bidang penyelenggaraan    keamanan   dan   ketertiban   masyarakat, terbatas pada lingkungan kerjanya; c.     bahwa   pengaturan   mengenai   satuan   pengamanan   pada organisasi, perusahaan dan/atau instansi/lembaga pemerintah merupakan  kewenangan  Kepala   Kepolisian  Negara Republik

Indonesia  dan  pengelolaannya  dilakukan  secara  profesional dalam suatu Sistem Manajemen Pengamanan;
d. bahwa   berdasarkan   pertimbangan   sebagaimana   dimaksud pada  huruf  a,  huruf  b,  dan  huruf  c,  perlu  menetapkan Peraturan   Kepala   Kepolisian   Negara   Republik   Indonesia tentang Sistem Manajemen Pengamanan Organisasi, Perusaha- an dan/atau Instansi/Lembaga Pemerintah;

Mengingat      : 1. Undang-Undang   Nomor  2  Tahun  2002  tentang  Kepolisian Negara   Republik   Indonesia   (Lembaran   Negara   Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168); 2. Keputusan   Presiden   Nomor      70   Tahun   2002   tentang Organisasi   dan   Tata   Kerja   Kepolisian   Negara   Republik Indonesia; 3. Keputusan Presiden  Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2004 tentang Pengamanan Objek Vital Nasional; 4.     Peraturan  Pemerintah  Republik  Indonesia  Nomor  102 Tahun  2000 tentang Standarisasi Nasional.

MEMUTUSKAN:

  Menetapkan    :   PERATURAN   KEPALA   KEPOLISIAN   NEGARA  REPUBLIK INDONESIA TENTANG SISTEM MANAJEMEN PENGAMANAN ORGANISASI,  PERUSAHAAN  DAN/ATAU   INSTANSI/ LEMBAGA PEMERINTAH.

BAB  I KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:   1.       Sistem Manajemen Pengamanan yang selanjutnya disingkat SMP adalah bagian dari manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan pengamanan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan  dengan  kegiatan  usaha  guna  mewujudkan  lingkungan  yang  aman, efisien dan produktif. 2.       Industrial Security adalah  segala  upaya  yang berkaitan  dengan  perlindungan terhadap instalasi, sumberdaya,  utility, material dan informasi rahasia industri dalam rangka mencegah terjadinya kerugian dan kerusakan. 3.       Organisasi  adalah  suatu  badan  berbasis  kemasyarakatan   yang  melakukan kegiatannya dengan tidak berorientasi pada aspek komersial, yang beroperasi di wilayah Republik Indonesia. 4.       Perusahaan  adalah  suatu  badan  yang  melakukan  kegiatannya  berorientasi komersial yang beroperasi di wilayah Republik Indonesia. 5.       Instansi/lembaga   Pemerintah   adalah  organisasi  pemerintah   selain  Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berorientasi pada fungsi pelayanan masyarakat, yang menyelenggarakan Satuan Pengamanan. 6.       Satuan  Pengamanan  yang  selanjutnya  disingkat  Satpam  adalah  satuan  atau kelompok petugas yang dibentuk oleh instansi/badan usaha untuk melaksanakan pengamanan    dalam   rangka   menyelenggarakan    keamanan   swakarsa   di lingkungan kerjanya. 7.       Tempat  kerja  adalah  setiap  ruangan  atau  lapangan,  tertutup  atau  terbuka, bergerak atau tetap dimana kegiatan usaha dan fungsi pelayanan publik berlangsung serta terdapat sumber-sumber ancaman dan gangguan keamanan baik fisik maupun non fisik di dalam wilayah negara Republik Indonesia.

8.       Badan  Usaha  Jasa  Pengamanan   yang  selanjutnya   disingkat  BUJP  adalah perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas yang bergerak di bidang penyediaan  tenaga  pengamanan,  pelatihan  keamanan,  kawal  angkut uang/barang  berharga, konsultasi keamanan, penerapan peralatan keamanan, dan penyediaan satwa untuk pengamanan. 9.       Audit  adalah  proses   kegiatan   yang  bertujuan   untuk  meyakinkan   tingkat kesesuaian antara satu kondisi yang menyangkut kegiatan dari suatu identitas dengan kriterianya dilakukan oleh auditor yang   berkompeten  dan  independen dengan mendekatkan dan mengevaluasi bukti-bukti pendukungnya secara sistematis,   analistis,   kritis  dan  selektif  guna  memberikan   pendapat   atau kesimpulan dan rekomendasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. 10.     Tim Audit adalah Tim yang dibentuk oleh Polri yang bertugas melakukan audit akreditasi terhadap BUJP dalam rangka penerbitan operasionalnya. 11.     Badan Audit   adalah suatu badan independen yang bertugas melakukan audit SMP untuk memastikan tingkat pencapaian, pemeliharaan, serta penerapan SMP di lingkungan organisasi, perusahaan, instansi/lembaga pemerintah. 12.     Laporan audit adalah hasil audit yang dilakukan oleh Badan Audit yang berisi fakta  yang  ditemukan  pada  saat pelaksanaan  audit  di tempat  kerja  sebagai dasar untuk menerbitkan sertifikat SMP. 13.     Pembinaan   Satpam  adalah  segala   usaha,  kegiatan   dan  pekerjaan   untuk membimbing, mendorong, mengarahkan, menggerakan termasuk kegiatan koordinasi   dan  bimbingan   teknis   Satpam,   untuk   ikut  serta  secara   aktif menciptakan, memelihara dan meningkatkan ketertiban dan keamanan bagi diri dan lingkungan kerjanya dalam bentuk ketertiban dan keamanan swakarsa. 14.     Surat Izin Operasional adalah surat yang berisi keterangan bahwa pemegang surat   diberi   izin   untuk   melakukan   kegiatan   promosi,   proses   tender, melaksanakan kontrak kerja pengamanan, dan melakukan kegiatan sebagai perusahaan jasa di bidang pengamanan. 15.     Wilayah  Usaha  adalah  wilayah  dimana  badan  usaha  yang  bersangkutan dibenarkan untuk melakukan kegiatan usaha yang didasarkan atas pembagian wilayah hukum Polda. 16.     Pelatihan adalah proses interaksi antara peserta pelatihan dengan pelatih untuk memperoleh kompetensi agar mampu berbuat dan terbiasa melakukan sesuatu kegiatan di bidang tertentu. 17.     Kurikulum  adalah  seperangkat  rencana  dan  pengaturan  mengenai  tujuan, kompetensi,  isi,  dan  bahan  pelajaran  serta  cara  yang  digunakan  sebagai pedoman   untuk   penyelenggaraan   pembelajaran   dan/atau   pelatihan   guna mencapai tujuan tertentu. 18.     Inhouse Training adalah pelatihan yang dilaksanakan  pengguna Satpam pada bidang khusus sesuai dengan lingkup tugasnya. 19.     Pelatihan  Gada  Pratama  adalah  pelatihan  dasar  Satpam  bagi  anggota/calon anggota Satpam yang belum pernah mengikuti pelatihan di bidang Satpam. 20.    Pelatihan Gada Madya adalah pelatihan Satpam bagi anggota Satpam yang dipersiapkan    untuk   menduduki    jabatan   setingkat   Kepala   regu   keatas (supervisor). 21.     Pelatihan    Gada   Utama    adalah    pelatihan    Satpam    bagi   manajer/calon manajer/chief security atau  bagi manajer  yang bertanggung  jawab  terhadap bidang  pengamanan. 22.     Pelatihan/Kursus  Spesialisasi  adalah  kegiatan  pelatihan  yang bertujuan  untuk mendapatkan keahlian tertentu di bidang pengamanan. 23.     Seragam Satpam yang selanjutnya disingkat Gam Satpam adalah pakaian yang dilengkapi  dengan  tanda  pengenal  dan  atribut  tertentu  sesuai  aturan  dari kepolisian  sebagai   pengawas  dan pembina  teknis Satpam  yang dipakai dan digunakan  oleh  anggota  Satpam  serta  telah  mendapat  pengakuan  dari  Polri untuk dapat melaksanakan tugas sebagai pengemban fungsi kepolisian terbatas pada lingkungan kerjanya. 24.     Gam Satpam Pakaian Dinas Harian yang selanjutnya disingkat Gam Satpam PDH adalah Gam Satpam  yang dipakai  dan digunakan  untuk melaksanakan  tugas sehari-hari di lingkungan kerjanya, selain di kawasan khusus yang memerlukan kelengkapan seragam khusus. 25.     Gam Satpam Pakaian Dinas Lapangan yang selanjutnya disingkat Gam Satpam PDL adalah Gam Satpam yang khusus digunakan pada area yang banyak berhubungan kegiatan di lapangan  dan sejenisnya. 26.     Gam Satpam Pakaian Sipil Harian yang selanjutnya disingkat Gam Satpam PSH adalah Gam Satpam  yang dipakai  dan digunakan  untuk melaksanakan  tugas harian   di   area   kerjanya   yang   banyak   berhubungan   dengan   pelanggan, masyarakat umum serta petugas yang membidangi pengamanan non fisik, yang diberikan kepada petugas setingkat supervisor ke atas. 27.     Gam Satpam Pakaian Sipil Lapangan yang selanjutnya disingkat Gam Satpam PSL adalah Gam Satpam yang dipakai dan digunakan untuk melaksanakan tugas pengamanan event. 28.     Atribut  Satpam  adalah  segala  bentuk  tanda  anggota  Satpam  yang  dapat menunjukkan  kompetensi,  kualifikasi  dan  identitas  pengguna  serta  daerah tempat bertugas yang dipasang pada pakaian kerja. 29.     Tanda  Kewenangan  adalah  tanda  tertentu  yang  dipakai  oleh  setiap  anggota Satpam sebagai tanda kompetensi pengemban fungsi kepolisian terbatas di lingkungannya. 30.     Daerah  tugas  adalah  wilayah  hukum  dari  satuan  kewilayahan  Polri  dimana lingkungan kerja atau pusat kegiatan (home base) dari anggota Satpam tersebut berada. 31.     Petunjuk  teknis  (technical guide line)  adalah  penjabaran  dari  SMP  yang ditandatangani oleh Pejabat Polri setingkat Deputi atas nama Kapolri.

Pasal 2

Tujuan SMP

Tujuan  dari  SMP  adalah  menciptakan  sistem  pengamanan  di tempat  kerja  dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang secara profesional  terintegrasi  untuk mencegah  dan mengurangi  kerugian akibat ancaman, gangguan dan/atau bencana serta mewujudkan tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

BAB  II SMP

Bagian Kesatu

Ruang Lingkup

Pasal 3

SMP   wajib   diterapkan   pada   organisasi,   perusahaan   dan/atau   instansi/lembaga pemerintah di wilayah hukum Republik Indonesia.

Bagian Kedua

Standar dan Penerapan

Pasal 4

Standar SMP meliputi :   a.       penetapan kebijakan pengamanan dan menjamin komitmen terhadap penerapan SMP b.       perencanaan    pemenuhan    kebijakan    tujuan    dan    sasaran    manajemen pengamanan; c.       penerapan kebijakan SMP secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran pengamanan; d.       pengukuran,  pemantauan  dan evaluasi  kinerja  pengamanan  serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan; e.     peninjauan  secara teratur dan peningkatan  pelaksanaan  SMP secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja pengamanan.

Pasal 5

(1)     Unsur-unsur yang terdapat dalam standar dan penerapan SMP pada organisasi, perusahaan dan/atau instansi/lembaga pemerintah, terdiri atas: a.       pemeliharaan dan pembangunan komitmen; b.       pemenuhan aspek peraturan perundang-undangan keamanan; c.       manajemen risiko pengamanan; d.       tujuan dan sasaran; e.       perencanaan dan program; f.       pelatihan, kepedulian, dan kompetensi pengamanan; g.       konsultasi, komunikasi dan partisipasi; h.       pengendalian dokumen dan catatan; i.        penanganan keadaan darurat; j.       pengendalian proses dan infrastruktur; k.       pemantauan dan pengukuran kinerja; l.        pelaporan, perbaikan dan pencegahan ketidaksesuaian; m.      pengumpulan dan penggunaan data; n.       audit; o.       tinjauan manajemen; p.       peningkatan berkelanjutan. (2)     Penjelasan  mengenai  standar  dan   penerapan  SMP sebagaimana    tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

BAB  III SATPAM

Bagian Kesatu

Tugas Pokok, Fungsi dan Peranan

Pasal 6

(1)     Tugas  pokok  Satpam  adalah  menyelenggarakan  keamanan  dan ketertiban  di lingkungan/tempat  kerjanya  yang meliputi  aspek pengamanan  fisik, personel, informasi  dan pengamanan teknis lainnya. (2)     Fungsi Satpam adalah melindungi dan mengayomi lingkungan/tempat kerjanya dari setiap gangguan keamanan, serta menegakkan  peraturan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan kerjanya.

(3)     Dalam  pelaksanaan  tugasnya  sebagai  pengemban  fungsi  kepolisian  terbatas, Satpam berperan  sebagai: a.       unsur  pembantu  pimpinan  organisasi,  perusahaan  dan/atau  instansi/ lembaga pemerintah, pengguna Satpam di bidang pembinaan keamanan dan ketertiban lingkungan/tempat kerjanya; b.       unsur  pembantu  Polri  dalam  pembinaan   keamanan   dan  ketertiban masyarakat, penegakan peraturan perundang-undangan serta menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan keamanan (security mindedness dan security awareness) di lingkungan/tempat kerjanya.

Bagian Kedua

Struktur Organisasi

Pasal 7

Organisasi,  perusahaan  dan/atau  instansi/lembaga   pemerintah  harus  membentuk struktur organisasi Satpam dalam rangka mendukung pencapaian penerapan SMP.

Pasal 8

(1)     Pengorganisasian  Satpam dilaksanakan  secara fungsional  dan struktural  yang penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan. (2)     Bentuk organisasi Satpam pada setiap organisasi, perusahaan dan/atau instansi/ lembaga  pemerintah  pengguna  Satpam  berbeda  antara satu dengan  lainnya, tergantung dari sifat dan ruang lingkup kerjanya. (3)     Bentuk organisasi Satpam sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah: a.       secara   umum   organisasi   Satpam   mencerminkan   organ-organ   yang mempunyai fungsi sebagai berikut : 1.       unsur  pimpinan  (penanggung  jawab),  sebagai  pimpinan  puncak Satpam   yang   bertanggung   jawab   atas   pengelolaan   sistem keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja; 2.       unsur  staf  dan  pelaksana  (back office), yang  bertugas  sebagai pembantu   pimpinan   dalam   bidang   perencanaan,   keuangan, material dan logistik; 3.       unsur  pelaksana  (front office),   yang  bertugas  melaksanakan semua kegiatan pengamanan di lingkungan kerjanya; 4.       unsur  pengawasan  (internal audit), sebagai  pembantu  pimpinan dalam pengawasan  dan pengendalian  terhadap seluruh kegiatan pengamanan di lingkungan kerja; b.       berdasarkan   penyelenggaraan   dan   manfaatnya,   organisasi   Satpam sebagai berikut: 1.       organisasi BUJP, yaitu para anggota Satpam diorganisir dalam satu badan usaha yang bergerak di bidang industri jasa pengamanan; 2.       organisasi  Satpam  organik,  yaitu  merupakan  satu  komponen bagian   dari  suatu   organisasi,   perusahaan   dan/atau   instansi/ lembaga pemerintah; c.       asosiasi   yang   menampung   Satpam   yaitu   organisasi   massa   yang menampung aspirasi dan kepentingan profesi Satpam. (4)     Unsur pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a angka 3 dapat dibagi menurut obyek fisik tempat geografis/instalasi  produksi dan/atau obyek khusus yang secara kegunaan diperlukan sesuai kebutuhan. (5)     Asosiasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dibentuk oleh komunitas Satpam dengan mengikutsertakan komunitas terkait. (6)     Pembentukan asosiasi difasilitasi dan disahkan oleh Kapolri serta menjadi mitra Polri dalam rangka pembinaan industrial security di Indonesia. (7)     Bentuk organisasi sebagaimana  dimaksud pada ayat (3) dapat dikembangkan sesuai kebutuhan antara lain menurut stratifikasi jenjang otoritas kewenangan baik secara struktural maupun fungsional. (8)     Tipikal  bentuk  organisasi  Satpam  dan  organisasinya  sebagaimana  tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

Bagian Ketiga

Pembinaan Satpam

Paragraf 1

Prioritas Pembinaan

Pasal 9

Prioritas pembinaan Satpam diarahkan kepada pelaksanaan tugas Satpam yang sejalan dengan kebijakan Polri di bidang Kamtibmas.

Pasal 10

Pembinaan anggota Satpam oleh Polri, meliputi: a.       legalitas kompetensi; b.       seragam dan atribut; c.       registrasi dan penerbitan Kartu Tanda Anggota (KTA), dan d.       sistem manejemen penggunaannya.

Paragraf 2

Sumber anggota Satpam

Pasal 11

Sumber anggota Satpam diperoleh dari: a.       karyawan    permanen    yang    ditunjuk    pimpinan    organisasi,    perusahaan dan/atau instansi/lembaga pemerintah (in-house security); b.       badan usaha di bidang jasa pengamanan (out-source).

Pasal 12

(1)     Untuk  diangkat  sebagai  anggota  Satpam,  seorang    calon  harus  memenuhi persyaratan sebagai berikut : a.       warga negara Indonesia; b.       lulus tes kesehatan dan kesamaptaan; c.       lulus psikotes; d.       bebas Narkoba; e.       menyertakan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK); f.       berpendidikan paling rendah Sekolah Menengah Umum (SMU); g.       tinggi badan paling rendah 165 (seratus enam puluh lima) cm untuk pria dan paling rendah 160 (seratus enam puluh) cm untuk wanita; h.       usia paling rendah 20 (dua puluh) tahun dan paling tinggi 30 (tiga puluh) tahun. (2)     Ketentuan mengenai persyaratan bagi mantan/purnawirawan  anggota TNI dan Polri diatur lebih lanjut dengan Petunjuk Teknis.

Paragraf 3

Kemampuan/Kompetensi

Pasal 13

(1)     Kemampuan/kompetensi anggota Satpam meliputi: a.       kepolisian terbatas; b.       keselamatan dan keamanan lingkungan kerja; c.       pelatihan/kursus spesialisasi dibidang Industrial Security. (2)     Kemampuan/kompetensi anggota Satpam sebagai pengemban fungsi Kepolisian Terbatas  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  a,  diperoleh  melalui pelatihan Satpam pada Lembaga Pendidikan Polri maupun BUJP yang telah mendapatkan izin dari Kapolri. (3)     Kemampuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari 3 (tiga) jenjang pelatihan yaitu: a.       Gada Pratama untuk kemampuan dasar; b.       Gada Madya untuk kemampuan menengah; dan c.       Gada Utama untuk kemampuan manajerial. (4)     Kemampuan teknis keselamatan dan keamanan lingkungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,  diperoleh melalui pelatihan in house training pada tempat dimana anggota Satpam bertugas. (5)     Pelatihan/Kursus  Spesialisasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  huruf  c, berkaitan  dengan  bidang  tugasnya  yang  diatur  secara  spesifik  baik  teknis maupun cakupannya, oleh ketentuan peruntukannya. (6)     Pelatihan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (4)  dan  ayat  (5)  merupakan kewajiban dari instansi/badan/penyelenggara dan pengguna Satpam.

Paragraf 4

Tujuan, Persyaratan dan Kurikulum Pelatihan

Pasal 14

(1)     Tujuan pelatihan Gada Pratama yaitu menghasilkan Satpam yang memiliki sikap mental kepribadian, kesamaptaan fisik, dan memiliki pengetahuan serta keterampilan dasar sebagai pelaksana tugas Satpam. (2)     Persyaratan peserta pelatihan Gada Pratama adalah: a.       warga negara Indonesia; b.       lulus tes kesehatan dan kesamaptaan; c.       lulus psikotes; d.       bebas Narkoba; e.       menyertakan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK); f.       berpendidikan paling rendah Sekolah Menengah Umum (SMU); g.       tinggi badan paling rendah 165 (seratus enam puluh lima) cm untuk pria dan paling rendah 160 (seratus enam puluh) cm untuk wanita; dan h.       usia paling rendah 20 tahun dan paling tinggi 30 tahun. (3)     Pelatihan Gada Pratama dilaksanakan dengan menggunakan minimal  pola 232 (dua ratus tiga puluh dua) jam pelajaran,  penambahan  disesuaikan   dengan kebutuhan perkembangan industrial security.

Pasal 15

  (1)     Tujuan  pelatihan  Gada  Madya  yaitu  menghasilkan  anggota  Satpam  yang memiliki sikap mental kepribadian, kesamaptaan fisik, dan memiliki pengetahuan dan keterampilan manajerial tingkat dasar dengan kualifikasi supervisor petugas Satpam.

(2)     Persyaratan peserta pelatihan Gada Madya adalah:

a.       lulus pelatihan Gada Pratama; b.       lulus tes kesehatan dan kesamaptaan; c.       bebas narkoba; d.       untuk  lulusan  SMU,  memiliki  pengalaman  kerja paling singkat  3 (tiga) tahun di bidang security; dan e.       surat rekomendasi  dari perusahaan  tempat peserta bekerja atau SKCK bagi peserta mandiri. (3)     Pelatihan Gada Madya dilaksanakan  menggunakan  minimal pola 160 (seratus enam puluh) jam pelajaran, penambahan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan industrial security.

Pasal 16

(1)     Tujuan  pelatihan  Gada  Utama  yaitu  menghasilkan  anggota  Satpam  yang memiliki sikap mental kepribadian, kesamaptaan fisik, dan memiliki pengetahuan serta   keterampilan   sebagai   Manajer/Chief  Security  dengan   kemampuan melakukan  analisa  tugas  dan kegiatan,  kemampuan  mengelola  sumber  daya serta kemampuan pemecahan masalah dalam lingkup tugas dan tanggung jawabnya.

(2)     Persyaratan umum pelatihan Gada Utama adalah: a.       lulus tes kesehatan; b.       bebas narkoba; c.       menyertakan SKCK; dan d.       lulus tes wawancara. (3)     Persyaratan khusus pelatihan Gada Utama adalah: a.       lulus pelatihan Gada Madya; b.       memiliki pengalaman kerja paling singkat 6 (enam) tahun bagi security karier; c.       wajib memiliki pengalaman kerja di bidang security paling singkat 3 (tiga) tahun bagi yang berpendidikan Diploma Tiga (DIII); d.       wajib memiliki pengalaman kerja di bidang security paling sedikit 2 (dua) tahun bagi yang berpendidikan Strata Satu (S1); e.       bagi purnawirawan, paling rendah berpangkat Perwira Pertama (Pama); f.       surat rekomendasi dari perusahaan tempat peserta bekerja. (4)     Pelatihan Gada Utama dilaksanakan minimal menggunakan pola 100 (seratus) jam pelajaran, penambahan disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan industrial security. (5)     Alokasi  waktu,  rincian  mingguan,  rincian  harian,  metode  pengajaran,  mata pelajaran dan jam pelajaran pelatihan Gada Pratama, Gada Madya dan Gada Utama sebagaimana tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

Pasal 17

(1)   Persyaratan peserta pelatihan/kursus spesialisasi adalah: a.    lulus Gada Pratama; b.    memiliki surat rekomendasi dari perusahaan tempat peserta bekerja. (2)   Kurikulum   pelatihan/kursus      spesialisasi      disusun  sesuai  peruntukkan   dan kualifikasi lulusannya.

Paragraf 5

Kode Etik dan Prinsip Penuntun Satpam

Pasal 18

(1)     Komitmen   Satpam   terhadap   kemampuan/kompetensi   dalam   melaksanakan tugas, berdasarkan kode etik Satpam dan prinsip penuntun Satpam. (2)     Kode  Etik  Satpam  dan  penuntun  Satpam  sebagaimana   tercantum  dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

Paragraf 6

Pendekatan Pelatihan

Pasal 19

Pelatihan Satpam menggunakan pendekatan: a.    tujuan, yaitu setiap tenaga pelatih wajib mengetahui  secara jelas tujuan yang harus dicapai oleh siswa dalam kegiatan pelatihan; b.    kompetensi,  yaitu  sejumlah  pengetahuan  dan keterampilan  yang wajib  dimiliki oleh Satpam sehingga mampu mengemban tugas dan jabatannya; c.    sistemik,  yaitu  penekanan  pada  kaitan  fungsional  antara  berbagai  komponen kurikulum  yaitu  tujuan  pelatihan,  kemampuan  yang  ingin dicapai,  pengalaman belajar, materi pelajaran, dan komponen pendukung lainnya; d.    sistematik, yaitu mendasarkan pada pemikiran yang teratur berdasarkan langkah- langkah yang telah ditentukan; e.    efisiensi dan efektif, yaitu penggunaan waktu, dana, dan fasilitas yang tersedia harus bisa dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung tercapainya tujuan; f.   dinamis, yaitu materi pelajaran yang diberikan selalu disesuaikan dengan perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan teknologi; g.    legalitas,  yaitu  lembaga  yang  memiliki  otoritas  memberikan  pelatihan  adalah  Lembaga Pendidikan Polri atau BUJP yang mendapat izin dari Kapolri.

Paragraf 7

Instruktur

Pasal 20

Instruktur  pelatihan  sebagai  tenaga pendidik/pelatih  dalam pelatihan  Satpam, wajib mempunyai kualifikasi formal dan non-formal sebagai berikut: a.  memiliki   akta/sertifikat   sebagai   pelatih   yang   diperoleh   melalui pendidikan/pelatihan formal yang dirancang khusus untuk menjadi seorang instruktur; b.    memiliki kompetensi/kemampuan  instruktur dalam menyusun dan menyampaikan materi yang diperoleh melalui pendidikan, pengetahuan maupun pengalaman; c.    menunjukkan    pengalaman    tugas   pengamanan,    keahlian   instruktur   pada kekhususan atau kejuruan tertentu sesuai dengan standar yang diperuntukkan; d.    menunjukkan tingkatan/strata kemampuan sebagai instruktur  dalam memberikan materi pelatihan pada Gada Pratama, Gada Madya, atau Gada Utama.

 Paragraf 8

Penahapan Pelatihan

Pasal 21

Penahapan pelatihan Satpam terdiri dari: a.       tahap   pertama   yaitu   tahap   pembentukan   sikap   mental   kepribadian   dan pembinaan fisik guna membentuk  sikap mental, kepribadian,  dan penampilan fisik petugas Satpam; b.       tahap  kedua  yaitu  tahap  pemberian  pengetahuan  dan  keterampilan  teknis profesi  Satpam  agar  memiliki  kemampuan  dan  keterampilan  dalam melaksanakan tugas sebagai anggota Satpam; c.       tahap ketiga adalah tahap pembulatan yakni aplikasi semua pengetahuan dan keterampilan yang telah diterima selama mengikuti pelatihan yang diwujudkan dalam bentuk latihan teknis dan pembekalan-pembekalan.

Paragraf 9

Lembaga Pelatihan

Pasal 22

(1)     Pelatihan Gada Pratama dan Gada Madya diselenggarakan oleh: a.       lembaga pendidikan di lingkungan Polri; b.       BUJP yang mempunyai izin operasional pelatihan dari Kapolri. (2)     Pelatihan Gada Utama penyelenggaraannya dikendalikan oleh Mabes Polri. (3)     Untuk pelatihan/kursus spesialisasi diselenggarakan oleh : a.       Polri; b.       inhouse training oleh pengguna jasa dan/atau instansi terkait; c.       instansi/pengguna  Satpam  terkait   dan/atau  BUJP yang mendapat  izin atau akreditasi untuk melakukan pelatihan dimaksud.

Paragraf 10

Sertifikasi dan Biaya

Pasal 23

(1)     Setiap peserta pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3),  yang dinyatakan lulus berhak mendapatkan ijazah kelulusan yang mencantumkan kualifikasi pelatihan dan daftar nilai. (2)    Bagi peserta yang telah mengikuti pelatihan/kursus spesialisasi sebagaimana dimaksud  dalam  Pasal  13  ayat  (1)  huruf  c,  berhak  mendapatkan  sertifikat pelatihan tanpa daftar nilai. (3)     Sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diterbitkan dan disahkan dengan ketentuan sebagai berikut: a.    untuk pelatihan Gada Pratama dan Gada Madya: 1.       ditandatangani oleh Kepala Bagian Binkamsa atas nama Kepala Biro Bimbingan Masyarakat (Karobimmas) Polri untuk pelatihan yang dilaksanakan pada tingkat Mabes Polri; 2.       ditandatangani oleh Kepala Birobinamitra atas nama Kapolda untuk pelatihan yang dilaksanakan pada tingkat Polda; b.    untuk pelatihan Gada Utama ditandatangani oleh Karobimmas Polri; c.     untuk  pelatihan/kursus  spesialisasi  ditandatangani  oleh  Pejabat  Instansi terkait yang mempunyai kewenangan. (4)     Dukungan    pembiayaan    pelatihan   menjadi   tanggung    jawab    organisasi, perusahaan  dan/atau  instansi/lembaga  pemerintah  yang bersangkutan  sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Paragraf 11

Pelaporan

Pasal 24

(1)     Setiap  pelaksanaan  pelatihan  Satpam  wajib  dibuatkan  laporan  pelaksanaan kegiatan pelatihan. (2)     Isi laporan pelaksanaan kegiatan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a.       jumlah dan sumber peserta; b.       sarana dan prasarana pelatihan; c.       materi dan metode pelatihan; d.       instruktur; dan e.       hasil pelatihan.

Paragraf 12

Seragam Satpam

Pasal 25

Dalam pelaksanaan tugasnya, Satpam memakai pakaian seragam dan atribut sebagai identitas pengemban fungsi kepolisian terbatas yang sah, sehingga identitas tersebut dapat dibedakan dari bentuk-bentuk seragam profesi lainnya.

Pasal 26

 

Gam Satpam terdiri dari: a.       Gam Satpam PDH; b.       Gam Satpam PDL; c.       Gam Satpam PSH; d.       Gam Satpam PSL.

Pasal 27

(1)     Gam Satpam  PDH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf a, terdiri dari:

a.       tutup kepala memakai pet, berwarna biru tua dilengkapi dengan: 1.       klep warna hitam; 2.       pita hias untuk setingkat supervisor ke atas berwarna kuning, staf berwarna putih dan anggota berwarna hitam; 3.       knop tali hias berbentuk bundar dengan simbol emblem Satpam; 4.       emblem untuk setingkat supervisor keatas berwarna kuning emas dengan alas beludru hitam sedangkan untuk staf dan anggota berwarna putih perak; b.       baju kemeja  lengan  pendek  berwarna  putih dan memakai  lap pundak (schouderlap); c.       celana  untuk  pria  adalah  celana  panjang  berwarna  biru  tua  dan  rok panjang   di  bawah   atau  kulot  untuk   wanita   yang   penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan; d.       sepatu  untuk  pria  sepatu  rendah  berwarna  hitam  dengan  kaos  kaki berwarna hitam, dan untuk wanita sepatu pantofel dengan tumit sepatu setinggi 5 (lima) cm warna hitam; e.       ikat pinggang terdiri dari sabuk besar (kopelriem) berwarna hitam dengan timang (gesper) dari logam berwarna kuning dan ikat pinggang kecil berwarna hitam memakai timang (gesper) dari logam berwarna kuning dengan simbol sama seperti pada emblem; f.       atribut, terdiri dari : 1.       monogram dari logam dipasang pada leher baju, untuk pimpinan berwarna  kuning  emas,  sedangkan  anggota  lainnya  berwarna putih; 2.       pita nama terbuat dari kain berwarna dasar putih dijahit di atas saku sebelah kanan dengan tulisan berwarna hitam, sedangkan di bawah   nama   ditulis   nomor   registrasi   dari   anggota   yang bersangkutan dengan tulisan berwarna hitam; 3.       pita Satpam terbuat dari kain berwarna dasar putih dengan huruf berwarna hitam dijahit di atas saku dada sebelah kiri; 4.       badge  terbuat  dari  kain  dijahit  pada  lengan  baju  kiri  yang menunjukkan instansi/proyek/badan usaha yang menggunakan Satpam tersebut; 5.       tanda lokasi terbuat dari kain dijahit pada lengan baju kiri di atas badge  yang  menunjukkan  lokasi  Poltabes/Polres/ta  yang membawahi operasionalisasi Satpam tersebut; 6.       badge Mabes Polri atau Polda terbuat dari kain dijahit pada lengan baju kanan yang menunjukkan  dimana  Satpam  tersebut diregistrasi;

7.       tali  peluit  untuk  setingkat  supervisor  ke  atas  di  bahu  kanan berwarna hitam, sedangkan untuk staf dan anggota di bahu kiri berwarna hitam; 8.       tanda jabatan hanya untuk setingkat Supervisor dilekatkan pada saku sebelah kiri yang terbuat dari logam berwarna kuning emas; 9.       pentung/ruyung  yang digunakan  menyesuaikan  spesifikasi  teknis dan penggunaan yang digunakan pada Polri; 10.     pisau rimba (survival & tactical) dan multi fungsi (multi function); 11.     tanda kompetensi Kepolisian terbatas gada pratama, gada madya dan gada utama terbuat dari logam dipasang pada dada kiri; 12.     tanda kualifikasi/spesialisasi  keahlian/keterampilan  ditempatkan di atas pita sekuriti di bawah tanda kompetensi.   (2)    Bentuk dan spesifikasi tanda kualifikasi/spesialisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f angka 12 ditetapkan dengan Keputusan Kapolri.

Pasal 28

Gam Satpam PDL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf b, terdiri dari: a.       tutup  kepala  memakai  topi  lapangan  berwarna  biru  tua  dilengkapi  dengan emblem; b.       baju  kemeja  lengan  panjang  berwarna  biru  tua  dan  memakai  lap  pundak (schouderlap); c.       celana untuk pria dan wanita,   bentuk dan warna sama dengan Gam Satpam PDH pria, ditambah dengan pemegang kopelriem; d.       sepatu  untuk  pria  sepatu  dinas  lapangan  berwarna  hitam  sedangkan  untuk wanita sepatu rendah berwarna hitam; e.       ikat  pinggang  terdiri  dari  kopelriem  berwarna  putih  dan  ikat  pinggang  kecil berwarna hitam; f.       atribut  Gam  Satpam  PDL  sama  dengan  Gam  Satpam  PDH  sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf f, kecuali tali peluit berwarna putih.

Pasal 29

Gam Satpam PSH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf c, terdiri dari : a.       stelan safari berwarna gelap bagi pria dan wanita; b.       sepatu untuk pria sepatu rendah berwarna hitam dengan kaos kaki berwarna hitam sedangkan untuk wanita sepatu pantofel dengan tumit setinggi 5 (lima) cm  berwarna hitam; c.       atribut, terdiri dari : 1.       papan  nama  terbuat  dari  bahan  mika  berwarna  dasar  hitam  dengan tulisan berwarna putih, ditempatkan pada dada kanan; 2.       kompetensi Kepolisian Terbatas, Gada Pratama, Gada Madya dan Gada Utama, terbuat dari logam dipasang pada dada kiri.

 Pasal 30

Seragam Satpam PSL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf d terdiri dari: a.       stelan jas lengkap berwarna biru tua bagi pria dan wanita; b.       sepatu untuk pria sepatu rendah berwarna hitam dengan kaos kaki berwarna hitam sedangkan untuk wanita sepatu pantofel dengan tumit setinggi 5 (lima) cm  berwarna hitam; c.       atribut terdiri dari tanda kompetensi  Gada Pratama,  Gada Madya atau Gada Utama ditempatkan pada dada kiri.

Pasal 31

(1)     Penggunaan   Gam   Satpam   hanya   dibenarkan   dalam   melaksanakan   tugas pengamanan di lingkungan/tempat kerjanya; (2)     Penggunaan   Gam  Satpam  di  luar  lingkungan/tempat   kerjanya  diwajibkan membawa Surat Perintah Tugas atasannya; (3)     Dalam rangka pelayanan prima, penggunaan Gam Satpam PDH dapat dilengkapi dengan dasi berwarna biru; (4)     Dalam  keadaan  tertentu,  penggunaan  Gam Satpam  dapat dilengkapi  dengan jaket berwarna hitam dan penempatan atributnya sama dengan Gam Satpam. (5)     Bentuk Gam Satpam PDH,   Gam Satpam PDL,   Gam Satpam PSH, dan   Gam Satpam PSL sebagaimana tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

Paragraf 13

Kelengkapan lain

Pasal 32

(1)     Kelengkapan anggota Satpam, antara lain: a.       kelengkapan  perorangan  yang  melekat,  seperti  tongkat  polisi,  borgol, pisau,  senjata  api,  dan  radio  komunikasi,  spesifikasinya  berpedoman kepada ketentuan yang ada pada Polri. b.       kelengkapan  peralatan  keamanan  (security devices) Satpam  diberikan sesuai dengan tuntutan standar kebutuhan perlengkapan yang harus digunakan pada suatu area tugas. (2)     Ketentuan  mengenai  penggunaan  kelengkapan  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Petunjuk Teknis. (3)     Dalam rangka menjamin legalitas pemakaian kelengkapan harus dibekali dengan surat perintah penggunaan dari pimpinan organisasi, perusahaan dan/atau instansi/lembaga pemerintah pengguna Satpam. (4)     Bentuk   perlengkapan   topi   keselamatan   kerja   (Safety  Helmet),  sepatu keselamatan kerja (Safety shoes), atribut dan kompetensi Satpam  sebagaimana tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

Pasal 33

  Penggunaan senjata api bagi Satpam disesuaikan dengan sifat dan lingkup tugasnya serta berpedoman pada ketentuan tentang penggunaan senjata api yang berlaku.

Paragraf 14

Registrasi dan KTA Pasal 34

(1)     Untuk memudahkan  pengenalan  secara fisik anggota Satpam, setiap anggota Satpam mempunyai Nomor Registrasi (No Reg) sendiri yang dicantumkan/ dituliskan  di balik atribut tanda kompetensi  Gada Pratama,  Gada Madya dan Gada Utama serta di bawah papan nama pada Seragam. (2)     Struktur    penulisan  nomor  registrasi  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) adalah: a.       bagian pertama yang menunjukkan kode Mabes Polri atau Polda di mana anggota  diregistrasi pertama kali; b.       bagian kedua yang menunjukkan tahun berapa anggota Satpam tersebut lulus mengikuti pelatihan Satpam; c.       bagian ketiga menunjukkan  nomor urut registrasi dari anggota Satpam yang bersangkutan. (3)    Kode nomor “00” diberikan hanya bagi anggota satuan pengamanan yang memperoleh pelatihan tingkat Mabes Polri serta akan ditugaskan oleh organisasi penggunanya di 2 (dua) wilayah Polda atau lebih. (4)     Kode nomor registrasi   pertama kali, sebagaimana  tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

Pasal 35

(1)     Fungsi registrasi untuk Satpam adalah: a.       sebagai  salah  satu  bentuk  pengawasan  administratif  terhadap  setiap anggota Satpam yang meliputi: 1.       identitas pribadi; 2.       kompetensi kemampuan; 3.       riwayat penugasan; dan 4.       catatan yang berkaitan dengan profile penugasan masing-masing Satpam; b.       merupakan syarat untuk menetapkan nomor registrasi dan mengeluarkan KTA bagi seorang anggota Satpam.

(2)     Dokumen  registrasi  dijadikan  dasar  untuk  pembuatan  data,  statistik  dan informasi yang dapat menggambarkan peta kekuatan satpam sesuai dengan kebutuhannya.

Pasal 36

  (1)     Fungsi KTA Satpam adalah sebagai identitas kewenangan melaksanakan tugas pengemban fungsi kepolisian terbatas di lingkungan kerjanya. (2)     KTA  wajib  diperlihatkan  apabila  diperlukan  untuk  membuktikan  kewenangan yang dimiliki pemegangnya.

Pasal 37

(1)     Tempat pengajuan registrasi  KTA  adalah: a.       Mabes  Polri,  sebagai  pusat  registrasi  dan  database  Satpam  seluruh wilayah Indonesia, dan Karobimmas Polri bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pengawasan registrasi Satpam tingkat nasional; b.       Polda,    sebagai pusat registrasi dan database Satpam di wilayah Polda, dan Kapolda bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pengawasan registrasi Satpam tingkat kewilayahan. (2)     Dalam  hal  tempat  pengajuan  registrasi  sangat  jauh  dari  tempat  tinggal pemohon, maka permohonan dapat diajukan ke Polwil/Polwiltabes/Poltabes/ Polres/Polresta, dan selanjutnya Polwil/Polwiltabes/Poltabes/Polres/Polresta meneruskannya ke Polda setempat. (3)     Tata cara dalam pemberian registrasi sebagai berikut: a.       organisasi  pengguna  Satpam  secara  kolektif  mengajukan  permohonan registrasi dan penerbitan KTA secara tertulis kepada Kapolri U.p. Karobimmas   Polri   atau   Kapolda   berdasarkan   tempat   sebagaimana dimaksud  pada ayat (1)   dan ayat (2) yang dilampiri dengan formulir registrasi  dan  KTA  yang  telah  diisi  dan  dilengkapi  persyaratan  oleh masing-masing anggota Satpam; b.       formulir registrasi yang telah diterima setelah dinyatakan lengkap, maka pada tingkat: 1.       Mabes   Polri,   diberikan   nomor   registrasi   untuk   seterusnya diterbitkan  KTA  yang  ditandatangani  oleh  Kabagbinkamsa  atas nama Karobimmas Polri; 2.       Polda, diberikan nomor registrasi untuk seterusnya diterbitkan KTA yang ditandatangani oleh Karobinamitra atas nama Kapolda; c.       permohonan  registrasi  dan  penerbitan  KTA  yang  diterima,  selanjutnya diproses untuk kelengkapan pas foto dan rumus sidik jadi, kemudian dibuatkan surat pengantar ke Polda guna penomoran registrasi dan penerbitan KTA. (4)     KTA  yang  telah  diterima  oleh  pemohon,  wajib  dilaporkan  kepada  Binamitra Polres dimana pemegangnya bertugas, yang akan digunakan sebagai data dalam rangka pembinaan operasionalnya.

Pasal 38

(1)     Kelengkapan  persyaratan  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  37  ayat  (3) huruf a terdiri dari: a.       pas foto; b.       fotokopi sertifikasi kompetensi yang dimiliki; dan c.       rumus sidik jari masing-masing anggota Satpam. (2)    Pengambilan  pas foto dan perumusan  sidik jari sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) huruf a dan huruf c, dilaksanakan oleh pejabat Identifikasi Polri pada organik pelaksana fungsi identifikasi di setiap tempat registrasi.

Pasal 39

  Keterangan yang dicantumkan dalam KTA, meliputi: a.       identitas pribadi; b.       perusahaan/instansi yang menggunakan; c.       kompetensi kemampuan/kecakapan yang dimiliki; dan d.       masa berlaku KTA.

Pasal 40

Ketentuan dalam pembuatan pas foto pada KTA Satpam adalah: a.       pas foto berwarna ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 lembar; b.       background/warna dasar pas foto menyesuaikan KTA Satpam yang diajukan; c.       menggunakan Gam PDH yaitu putih biru lengkap dengan badge, lokasi, papan nama, tanda kewenangan dan tanpa tutup kepala,   kecuali untuk Kartu Tanda Manager Keamanan dapat menggunakan Seragam PSH.

Pasal 41

  (1)     Warna dasar KTA adalah: a.       biru diperuntukkan bagi  anggota Satpam yang telah lulus pelatihan gada pratama; b.       kuning diperuntukkan  bagi   anggota Satpam yang telah lulus pelatihan gada madya; c.       merah  diperuntukkan  bagi   anggota  Satpam  atau Manager  Keamanan yang telah lulus pelatihan gada utama. (2)     Bentuk  dan  ukuran  KTA  dibuat  dengan  kriteria  fleksibel,  efisien,  dan  tidak mudah  rusak,  sehingga  dapat  ditempatkan  dalam  saku  atau  dompet,  serta mudah untuk dibaca dan dikenali. (3)     Spesifikasi teknis KTA Satpam ditetapkan dengan Keputusan Kapolri.

(4)     Masa berlaku KTA Satpam adalah untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak tanggal dikeluarkan;

 Pasal 42

  (1)     Tata cara penggantian dan pencabutan KTA Satpam, sebagai berikut: a.       apabila KTA Satpam telah habis masa berlakunya, maka penggantian KTA dapat dilakukan melalui tata  cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3) dan pada surat permohonan  penggantian  KTA harus dilampiri KTA yang telah habis jangka waktu berlakunya; b.       apabila  KTA  Satpam  hilang  atau  rusak,  dapat  diminta  penggantinya melalui   tata cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (3), dan dilampiri bukti-bukti hilang atau sebab-sebab kerusakan; c.       apabila  pemegang  KTA  Satpam  meninggal  dunia,  dipindahkan  atau dibebaskan dari tugas-tugas Satpam, maka KTA yang bersangkutan oleh penggunanya   diserahkan   kepada  Polres   setempat,   untuk  kemudian diproses pencabutannya. (2)     Setiap perubahan/penambahan  nomor registrasi KTA, Polda wajib melaporkan ke Mabes Polri c.q. Birobimmas Polri.

Pasal 43

(1)     Setiap  Polda  wajib  melaporkan  mutasi  pemberian  nomor  registrasi  untuk database tingkat Mabes Polri. (2)     Setiap Polres wajib melaporkan mutasi dari pemegang KTA kepada Polda nya untuk menentukan perubahan status registrasi yang bersangkutan. (3)     Laporan pelaksanaan kegiatan registrasi dilakukan satu bulan sekali.

Pasal 44

Sistem data base elektronik Satpam, dilakukan sebagai berikut: a.       sistem electronik  data-base  dirancang  dengan konfigurasi  terdistribusi  sampai dengan tingkat Polres, dan berjalan pada jaringan intranet Polri; b.       aplikasi dalam data-base meliputi berbagai statistik tentang satuan pengamanan dan cetak KTA; c.       operator sistem data-base  dan tataran kewenangan  akses ditetapkan  dengan surat keputusan; d.       pembinaan terhadap sistem data-base ini dilaksanakan oleh Birobimmas Polri; e.       implementasi sistem data base elektronik Satpam dilaksanakan sesuai dengan program yang ditetapkannya.

Pasal 45

  Bagan  tentang  proses  registrasi  dan  penerbitan  KTA,  penulisan  dan  pencantuman nomor registrasi,  formulir  registrasi dan bentuk KTA sebagaimana  tercantum  dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

Pasal 46

  Anggaran  untuk  penyelenggaraan  registrasi  dan  penerbitan  KTA  Satpam  disusun dengan melibatkan semua komponen yang terkait.

BAB  IV

HUBUNGAN DAN  TATA CARA KERJA Pasal 47

(1)     Hubungan dan Tata Cara Kerja (HTCK) Satpam adalah: a.       vertikal ke atas, yaitu: 1.       dengan satuan Polri, menerima direktif yang menyangkut hal-hal legalitas   kompetensi,   pemeliharaan   kemampuan   dan   kesiap siagaan serta asistensi dan bantuan operasional; 2.       dengan  instansi/departemen teknis pemerintah, menerima direktif hal-hal  yang berkaitan  dengan  pembinaan  teknis sesuai dengan bidangnya; 3.       dengan asosiasi yang membawahi Satpam, menerima direktif hal- hal yang berkaitan dengan pembinaan keprofesian termasuk kesejahteraan di bidang industrial security dan advokasi terhadap masalah-masalah hukum yang terjadi; b.       horizontal, yaitu antar Satpam dengan komponen organisasi yang sejajar di lingkungan kerja maupun dengan organisasi kemasyarakatan di sekitar lingkungan kerja, dengan ketentuan: 1.       antar  Satpam  bersifat  koordinatif  saling  tukar  informasi  guna mendukung pelaksanaan tugas masing-masing; 2.       dengan   komponen   organisasi   di   lingkungan   kerja   bersifat koordinasi    untuk   efisiensi   dan   efektivitas    kegiatan   dalam pembinaan keamanan dan ketertiban; 3.       dengan  masyarakat  dan  organisasi  kemasyarakatan  di  sekitar tempat tugas bersifat  koordinasi  guna menciptakan  situasi yang saling   manfaat   dalam   rangka   memelihara   keamanan   dan ketertiban masyarakat;

c.       vertikal ke bawah, yaitu: 1.       dalam   ikatan  organisasi,     maka   organisasi   yang   lebih  atas melakukan pengawasan, pengendalian dan bantuan terhadap kegiatan serta menerima laporan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; 2.       dalam ikatan perorangan, maka kompetensi yang lebih atas dapat melakukan pengawasan teknis penerapan kode etik dan tuntunan pelaksanaan tugas serta melakukan tindakan korektif. (2)     Pada  setiap  lingkungan  kerja  HTCK  harus  dijabarkan  dalam  satu  prosedur standar  (Standart Operating Procedure/SOP) yang  menjadi  pedoman  pokok pelaksanaan kegiatan pengamanan. (3)    Apabila pada satu tingkat eskalasi keamanan  tertentu menimbulkan  ancaman dan  gangguan  terhadap  keamanan  dan ketertiban  masyarakat  umum,  maka Satpam harus di bawah komando dan kendali langsung Pejabat Polri yang berwenang.

Pasal 48

  (1)     Produk staf/naskah administrasi pengamanan terdiri dari: a.       rencana pengamanan (Renpam) merupakan produk/naskah kebijaksana- an pengamanan yang menetapkan arahan dan kerangka prinsip kegiatan yang  lengkap  untuk  setiap  organisasi  yang  disusun  oleh  pimpinan Satpam; b.       rencana kontinjensi (Renkon), merupakan  produk tertulis pada tatanan manajemen  puncak,  yang  menetapkan  arahan  dan  kerangka  prinsip kegiatan lengkap untuk satu organisasi; c.       rencana   kegiatan   dan   rencana   kontinjensi   (Activities  Plan   and Contingency Plan), merupakan produk tertulis yang disusun oleh setiap bagian dan unit kerja dari organisasi Satpam, secara “bulanan dan mingguan”  yang  akan  menjadi  acuan  kegiatan  bagi  setiap  anggota Satpam yang melaksanakan; d.       laporan     pelaksanaan,     merupakan     laporan     pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan, meliputi: 1.       laporan bulanan, dibuat oleh setiap bagian/komponen  organisasi Satpam yang ditujukan kepada penanggung  jawab Satpam, dan setelah dikompulir dan dievaluasi, diolah menjadi laporan kegiatan pengamanan kepada pimpinan puncak manajemen (Direksi); 2.       laporan pelaksanaan tugas, dibuat oleh penanggung jawab Satpam sebagai  pertanggungjawaban   lengkap  dari  pelaksanaan   tugas selama 1(satu) periode kerja/kontrak; e.       laporan kejadian, merupakan laporan yang dibuat oleh petugas Satpam yang berkompeten  dan diberikan  kewenangan  secara fungsional,  yang berisi tentang peristiwa/kejadian gangguan keselamatan/keamanan  yang terjadi  dan  harus  segera  diketahui  oleh  penanggung  jawab  Satpam maupun manajemen puncak (Direksi).

(2)   Apabila peristiwa/kejadian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e mengakibatkan    korban   manusia   dan/atau   berakibat   gangguan   kepada masyarakat umum di luar lingkungan kerja, atau sudah memenuhi unsur-unsur pelanggaran/pidana  umum, maka wajib pada kesempatan pertama dilaporkan kepada Satwil Kepolisian setempat dan membuat laporan selaku saksi pelapor.

Pasal 49

  (1)     Produk  Renpam  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  48  huruf  a  digunakan sebagai pedoman implementasi SMP pada seluruh komponen/bagian organisasi, dan menjangkau 1 (satu) tahun  periode kerja atau kontrak pengamanan. (2)     Ketentuan dalam pembuatan produk Renpam adalah: a.       kebijaksanaan   pengamanan   harus   konsisten   dengan   proses   bisnis organisasi dan/atau sistem manajemen yang berlaku; b.       merupakan  produk/naskah   “rahasia/confidential”,   yang  pemberlakuan dan perubahannya harus disahkan oleh pimpinan manajemen puncak; c.       pengendalian    distribusi    naskah    Renpam    berada    pada   pimpinan manajemen puncak, pelaksanaannya dilakukan oleh Kepala/Manajer Satpam; d.       Renpam  harus dijabarkan  menjadi rencana  kegiatan  pengamanan  oleh setiap komponen/bagian organisasi maupun kegiatan. (3)     Apabila  dipandang  perlu  oleh  manajemen,  Renpam  dapat  diberikan  kepada kepala satuan wilayah kepolisian setingkat Polres setempat dan khusus untuk objek vital nasional kepada Polda setempat.

Pasal 50

(1)     Produk Renkon sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal 48 huruf b disusun oleh kepala/manajer Satpam, yang pemberlakuannya disahkan oleh pimpinan instansi/lembaga Pemerintah yang bersangkutan, yang digunakan sebagai pedoman  di  setiap  komponen/bagian   lingkungan  kerja  dalam  menghadapi keadaan darurat/kontinjensi keamanan. (2)     Produk Renkon  merupakan produk “terbatas”, dan dalam pembuatannya harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: a.       pemberlakuannya   termasuk   perubahannya   disahkan   oleh   pimpinan puncak manajemen;

b.       dalam  penyusunannya  dapat  meminta  konsultasi  dari  pejabat/Kepala Kepolisian wilayah setempat dan instansi pemerintah terkait;

c.       pengendalian distribusi naskah Renkon berada pada manajemen puncak; d.       dijabarkan  pada  setiap  komponen/bagian   dari  organisasi  ke  dalam petunjuk kontinjensi yang lebih teknis dan praktis; e.       dilakukan latihan secara periodik guna evaluasi dalam rangka peninjauan untuk penyesuaian/penyempurnaan; f.       diberikan  kepada  kepala  satuan  wilayah  kepolisian  setingkat  Polres setempat, dan khusus untuk objek vital nasional diberikan juga kepada Polda setempat,   serta secara selektif prioritas diberikan kepada instansi pemerintah terkait.

Pasal 51

(1)     Ketentuan  produk  rencana  kegiatan  dan  rencana  kontinjensi  sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf c adalah : a.       disusun oleh pimpinan bagian/unit organisasi, dikerjakan oleh pimpinan Satpam, dan untuk pemberlakuannya  disahkan oleh penanggung jawab Satpam; b.       merupakan jabaran dari Renpam dan Renkon; c.       berisi  tentang  target  kegiatan,  personel  penanggung  jawab,  uraian kegiatan, jadwal pelaksanaan,  hasil yang dicapai dan keterangan  yang perlu dicatat/direkam; d.       dituangkan  pada panel visual di tempat  kerja  yang dapat dilihat  oleh personel yang terlibat; e.       rencana    kegiatan    dari    unsur-unsur    pelaksana    pada    organisasi pengamanan,  dilaporkan  dan/atau  dikoordinasikan  dengan Satuan Polri setempat, minimal pada saat rapat koordinasi rutin dalam rangka penyusunan rencana kegiatan bersama. (2)     Bentuk dari produk berupa renpam (security plan),  renkon (contingency plan), rencana kegiatan (security activity plan), laporan kejadian dan laporan kegiatan (security report) sebagaimana tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dengan peraturan ini.

BAB  V

BUJP Bagian Kesatu

Pembinaan

 

Pasal 52

(1)  Organisasi,  perusahaan  dan/atau  instansi/lembaga  pemerintah  dapat menggunakan BUJP dalam rangka mendukung pencapaian penerapan SMP. (2)     BUJP   yang   dimaksud   pada   ayat   (1)   dibina   oleh   Polri,   yang   dalam pelaksanaannya  wajib mendapatkan  izin operasional  dari Kapolri  berdasarkan rekomendasi dari Polda di tempat badan usaha tersebut beroperasi.

Bagian Kedua

Penggolongan

 

Pasal 53

Penggolongan BUJP meliputi: a.    Usaha Jasa Konsultasi Keamanan (Security Consultancy); b.    Usaha Jasa Penerapan Peralatan Keamanan (Security Devices); c.    Usaha Jasa Pelatihan Keamanan (Security Training); d.    Usaha  Jasa  Kawal  Angkut  Uang  dan  Barang  Berharga  (Valuables Security Transport); e.    Usaha Jasa Penyediaan Tenaga Pengamanan (Guard Services); f.     Usaha Jasa Penyediaan Satwa (K9 Services).

Pasal 54

(1)     Usaha Jasa Konsultasi Keamanan (Security Consultancy) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf a, memberikan jasa kepada pengguna jasa berupa saran, pertimbangan  atau pendapat dan membantu dalam pengelolaan  tentang cara dan prosedur pengamanan suatu  objek. (2)     Usaha  Jasa  Penerapan  Peralatan  Keamanan  (Security Devices) sebagaimana dimaksud  dalam  Pasal  53 huruf  b, memberikan  jasa  kepada  pengguna  jasa berupa  penerapan  teknologi  peralatan  pengamanan  dalam  kaitannya  dengan cara dan prosedur pengamanan suatu objek. (3)     Usaha  Jasa  Pelatihan  Keamanan  (Security Training) sebagaimana  dimaksud dalam  Pasal  53  huruf  c,  memberikan  jasa  berupa  penyediaan  sarana  dan prasarana untuk melaksanakan pendidikan dan latihan di bidang keamanan guna menyiapkan, meningkatkan, dan memelihara kemampuan tenaga Satpam. (4)     Usaha  Jasa  Kawal  Angkut  Uang  dan  Barang  Berharga  (Valuables Security Transport) sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal 53 huruf d, memberikan  jasa pengamanan berupa pengawalan pengangkutan uang dan barang berharga.

(5)     Usaha  Jasa  Penyediaan  Tenaga  Pengamanan  (Guard Services) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf e, memberikan jasa berupa penyediaan tenaga Satpam untuk melakukan pengamanan yang berkaitan dengan keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja pengguna jasa. (6)     Usaha Jasa Penyediaan Satwa (K9 Services) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 huruf f, memberikan jasa berupa penyediaan satwa untuk melakukan pengamanan  yang berkaitan  dengan keamanan  dan ketertiban  di lingkungan kerja pengguna jasa.

 Pasal 55

Kegiatan Badan Usaha Jasa Konsultasi Keamanan adalah:   a.    melakukan jasa penilaian kelayakan pengamanan objek, asset, dan lingkungan; b.    membuat perencanaan  bentuk dasar dan desain pengamanan  yang berstruktur dan sistematis sesuai dengan potensi kerawanan objek yang diamankan; c.    mengadakan   penelitian   dan   pengembangan   tentang   cara   dan   prosedur pengamanan suatu objek; d.    memberikan  jasa perancangan  sistem perangkat pengamanan  yang efektif dan efisien pada suatu objek pengamanan berdasarkan potensi kerawanan dan kondisi lingkungan; e.    membantu   pemakai   jasa   keamanan   dalam   mengimplementasikan    sistem perangkat pengamanan yang baru atau mengkaji ulang sistem pengamanan yang telah ada; f.     memberikan  jasa  konsultasi  di bidang  resiko  bisnis  (bussiness risk), termasuk informasi pengamanan dan bisnis; dan/atau g.    jasa pengumpulan  informasi  untuk kepentingan  pengamanan  swakarsa  internal perusahaan (client) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 56

Kegiatan Badan Usaha Jasa Penerapan Peralatan Keamanan adalah: a.  merencanakan  pengadaan, rancang bangun (design), pemasangan,  dan pemeliharaan peralatan keamanan, kecuali untuk peralatan keamanan senjata api, gas air mata, alat/peralatan kejut dengan tenaga listrik, dan bahan peledak; b.    menetapkan garansi atas penggunaan peralatan keamanan; c.    menyiapkan   dan   melatih   tenaga   operator   untuk   menjamin   beroperasinya peralatan keamanan; dan/atau d.    menyusun tata cara, prosedur dan mekanisme sistem tanda bahaya atau darurat guna bantuan dan pertolongan pertama.

Pasal 57

Kegiatan Badan Usaha Jasa Pelatihan Keamanan adalah: a.    menyelenggarakan pelatihan tenaga Satpam dengan kualifikasi kemampuan dasar Gada Pratama dan Gada Madya, kecuali untuk Gada Utama penyelenggaraannya dikendalikan oleh Mabes Polri; b.    menyelenggarakan  pelatihan spesialisasi bekerja sama dengan instansi, otoritas terkait atau BUJP yang direkomendasikan oleh instansi terkait; c.    menyelenggarakan   pelatihan  penyegaran  bagi  anggota  Satpam  yang  sudah bertugas dalam rangka pemeliharaan kemampuan dasar Satpam; dan/atau d.    menyelenggarakan penataran, lokakarya, dan seminar di bidang security.

 Pasal 58

  Kegiatan Badan Usaha Jasa Kawal Angkut Uang dan Barang Berharga adalah: a.    menyiapkan  infrastruktur  dan  sarana  angkutan  yang  memenuhi  persyaratan standar asuransi internasional; b.    menyiapkan  tenaga  pengawal  tetap dari Polri dan pengemudi  yang memenuhi persyaratan; c.   mengasuransikan uang dan barang berharga yang diangkut/dikawal; d.   mengasuransikan  personel  yang  melaksanakan  pengawalan  dan  pengangkutan uang dan barang berharga; dan/atau e.    melakukan pengawalan uang dan barang berharga dalam wilayah Indonesia.

Pasal 59

Kegiatan Badan Usaha Jasa Penyediaan Tenaga Pengamanan adalah: a.    menyiapkan  tenaga  pengamanan  yang  berkualifikasi  minimal  pelatihan  dasar Satpam (Gada Pratama); b.    memberikan  kompensasi,  asuransi,  dan jaminan kesejahteraan  lain bagi setiap anggota   Satpam   serta   kejelasan   status   ketenagakerjaan   sesuai   ketentuan peraturan perundang-undangan; c.   mengatur kegiatan pengamanan dalam lingkungan/kawasan kerjanya sesuai permintaan pengguna jasa pengamanan; dan/atau d.    mengawasi  dan  mengendalikan  pelaksanaan  pengamanan  dalam  lingkungan/kawasan kerjanya.

 Pasal 60

Kegiatan Badan Usaha Jasa Penyediaan Satwa (K9 Services) adalah:   a.    menyediakan jasa satwa yang mempunyai kemampuan khusus untuk membantu tugas Satpam sesuai dengan permintaan pengguna jasa;

b.    melatih pawang satwa; c.    melatih satwa; dan/atau d.    menyewakan satwa.

Bagian Ketiga

Kewajiban

 

Pasal 61

  (1)   BUJP dalam melaksanakan kegiatannya wajib: a.    menaati ketentuan peraturan perundangan; b.    merahasiakan sistem jasa pengamanan para penggunanya; dan c.    membuat laporan setiap semester yang ditujukan kepada Karobimmas Polri dan tembusan kepada Kapolda U.p. Karobinamitra setempat. (2)   Isi laporan setiap semester sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri dari: a.    data personel/karyawan badan usaha; b.    daftar pengguna jasa yang menjadi pelanggan (client); c.    data Satpam yang dikelola; dan d.    kegiatan usaha yang dijalankan.

Bagian Keempat

Surat Rekomendasi dan Surat Izin Operasional Badan Usaha

Paragraf 1

Surat Rekomendasi

Pasal 62

(1)     Tata Cara memperoleh surat rekomendasi adalah: a.       pimpinan badan usaha sebagai pemohon mengajukan surat permohonan yang ditujukan kepada Kapolda setempat U.p. Karobinamitra untuk mendapatkan surat rekomendasi dengan melampirkan: 1.       akte pendirian badan usaha dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT) yang telah mencantumkan  Jasa Pengamanan  sebagai salah satu bidang usahanya; 2.       struktur organisasi badan usaha; 3.       daftar personel (Pimpinan, Staf, dan Tenaga Ahli) berikut riwayat hidup singkat masing-masing; 4.       surat  keterangan  domisili  badan  usaha  dari  Pemerintah  Daerah setempat dan mencantumkan Jasa Pengamanan sebagai salah satu bidang usahanya;

5.       Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 6.       Tanda  Daftar  Perusahaan  (TDP)  dari  Dinas  Perindustrian  dan Perdagangan setempat; 7.       Surat Izin Usaha Perusahaan (SIUP) dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan   setempat,   Surat   Izin  Usaha   Tetap   dari  Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Badan/Instansi terkait; 8.       surat izin kerja sebagai Tenaga Ahli Asing dari Departemen Tenaga Kerja  dan  Transmigrasi,   Departemen   Hukum  dan  Hak  Asasi Manusia (HAM) serta Badan Intelkam Polri, apabila menggunakan tenaga kerja asing; 9.       membuat  surat  pernyataan  di atas  materai  tidak  menggunakan tenaga kerja asing, apabila tidak menggunakan tenaga kerja asing; 10.     surat pernyataan di atas materai akan menggunakan Gam Satpam sesuai dengan ketentuan Polri; 11.     surat keterangan sebagai anggota asosiasi yang bergerak di bidang jasa pengamanan, yang terdaftar di Polri; 12.     fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) pimpinan badan usaha; b.       Polri melakukan penelitian/audit terhadap persyaratan yang diajukan dan apabila memenuhi persyaratan diterbitkan surat rekomendasi yang ditandatangani oleh Karobinamitra atas nama Kapolda. (2)      Surat rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b berlaku untuk satu macam/jenis bidang usaha dengan jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal dikeluarkannya surat rekomendasi tersebut. (3)      Surat  rekomendasi  digunakan  untuk  mengurus  izin  operasional  dan  bukan merupakan izin operasional/kegiatan.

Paragraf 2

Surat Izin Operasional

 

Pasal 63

  Setiap  badan  usaha  hanya  dapat  melaksanakan  kegiatan  usaha  jasa  pengamanan setelah mendapat surat izin operasional dari Kapolri.

Pasal 64

  Persyaratan untuk mendapatkan surat izin operasional adalah: a.       persyaratan umum, yaitu: 1.       surat rekomendasi dari Polda setempat; 2.       akte pendirian badan usaha dalam bentuk Perseroan Terbatas (PT) yang telah  mencantumkan   Jasa  Pengamanan   sebagai  salah  satu  bidang usahanya;

3.       struktur organisasi badan usaha; 4.     daftar personel (Pimpinan, Staf, dan Tenaga Ahli) berikut riwayat hidup/curicullum vitae masing-masing; 5.       surat keterangan domisili badan usaha dari Pemerintah Daerah setempat dan   mencantumkan   Jasa   Pengamanan   sebagai   salah   satu   bidang usahanya; 6.       Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 7.       Tanda   Daftar    Perusahaan    (TDP)   dari   Dinas    Perindustrian    dan Perdagangan setempat; 8.       Surat  Izin  Usaha  Perusahaan   (SIUP)  dari  Dinas  Perindustrian   dan Perdagangan  setempat,  Surat Izin Usaha  Tetap  dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Badan/Instansi terkait; 9.       bagi Tenaga Kerja Asing harus memiliki dokumen keimigrasian yang sah dan masih berlaku; 10.     surat  pernyataan  bermaterai  akan  menggunakan  Gam  Satpam  sesuai dengan ketentuan Polri; 11.    surat keterangan sebagai anggota asosiasi yang bergerak di bidang pengamanan, yang terdaftar di Polri; 12.     fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) pimpinan badan usaha. b.       persyaratan khusus, yaitu: 1.       bagi badan usaha jasa yang bergerak di bidang jasa konsultan keamanan, diwajibkan memiliki tenaga ahli yang mempunyai kemampuan dan keterampilan teknis/sistem pengamanan; 2.       bagi badan usaha jasa yang bergerak di bidang jasa penerapan peralatan keamanan, diwajibkan memiliki surat rekomendasi uji coba atas peralatan pengamanan yang akan dipasarkan sesuai standarisasi yang dikeluarkan oleh Biro Penelitian dan Pengembangan Polri; 3.       bagi badan usaha jasa yang bergerak di bidang jasa pelatihan keamanan, diwajibkan  memiliki  sarana  dan  prasarana  pelatihan  yang  ditentukan Polri; 4.       bagi badan usaha jasa yang bergerak di bidang jasa kawal angkut uang dan barang berharga, diwajibkan memiliki sarana angkutan khusus (armored car) dan ruang khusus (strong room/vault); 5.       bagi badan usaha jasa yang bergerak di bidang jasa penyediaan tenaga pengamanan,  diwajibkan  mengasuransikan  anggota  Satpamnya  kepada PT. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek); 6.       bagi  badan  usaha  jasa  penyedia  satwa,  diwajibkan  memiliki  fasilitas kandang, pawang (handler) dan tempat pelatihan.

Pasal 65

  Tata cara untuk mendapatkan surat izin operasional adalah: a.       pimpinan  badan  usaha  mengajukan  permohonan  surat  izin  operasional  yang ditujukan kepada Kapolri U.p. Karobimmas Polri untuk mendapatkan pengesahan izin operasional badan usahanya dengan melampirkan semua persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64; b.       apabila persyaratan dipenuhi, dilakukan audit kesiapan bagi izin baru dan audit kinerja bagi izin lama (perpanjangan) oleh Tim Audit untuk menilai layak atau tidak diterbitkan izin operasionalnya; c.       apabila dinilai layak oleh Tim Audit, diterbitkan surat izin operasional kegiatan badan usaha yang ditandatangani oleh Karobimmas Polri atas nama Kapolri;

Pasal 66

  (1)     Wilayah kegiatan dari BUJP ditentukan dalam surat izin operasional badan usaha yang diterbitkan. (2)     Surat izin operasional BUJP berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun bagi izin baru, dan 2 (dua) tahun bagi izin perpanjangan.

BAB  VI

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Bagian Kesatu

Audit SMP Pasal 67

(1)      Dalam   rangka   pengawasan   dan   pengendalian   guna   untuk   memastikan penerapan SMP dilaksanakan audit. (2)      Audit sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi: a.       audit kecukupan dokumen; b.       audit kesesuaian; dan c.       audit pengawasan.   (3)      Audit kecukupan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a adalah kegiatan mereview dokumen untuk memastikan bahwa semua persyaratan dokumen administrasi dan perundangan telah dipenuhi oleh organisasi, perusahaan dan atau  instansi/lembaga  pemerintah  sebelum  dilakukan  audit  kesesuaian  oleh Badan Audit. (4)      Audit kesesuaian  sebagaimana  dimaksud pada ayat (2) huruf b dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) tahun masa sertifikasi. (5)     Audit pengawasan SMP dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun selama masa sertifikat.

(6)      Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh badan audit yang ditugaskan oleh Kapolri. (7)      Badan audit sebagaimana yang dimaksud pada ayat (6) adalah Lembaga Audit Publik nasional yang independen, dan mendapat penunjukan melalui keputusan Kapolri. (8)      Kriteria Badan audit yang dimaksud pada ayat (7) akan diatur dalam petunjuk teknis.

Pasal 68

Dalam rangka pelaksanaan audit SMP, masing-masing pihak yang terkait  mempunyai tanggung jawab sebagai berikut:   a.       Polri, melakukan: 1.       pembuatan rencana tahunan audit  bagi organisasi, perusahaan dan atau instansi/lembaga pemerintah; 2.       penyampaian   pemberitahuan   pelaksanaan   audit   kepada   organisasi, perusahaan dan/atau instansi/lembaga pemerintah, dan badan audit; 3.       penunjukan personel Polri yang dilibatkan dalam tim audit; b.       Badan audit menyiapkan personel yang dilibatkan dalam tim audit dan sistem prosedur untuk pelaksanaan audit; c.       Organisasi,  perusahaan  dan/atau  instansi/lembaga  pemerintah  menyediakan dokumen  dan  seluruh  persyaratan  yang  diperlukan  untuk  pelaksanaan  audit SMP.

Pasal 69

  (1)     Tim  Audit  SMP  dibentuk  serta  dipimpin  oleh  badan  audit  yang  anggotanya berasal dari: a.       Auditor badan audit dan/atau atas nama badan audit; b.       Staf  Birobimmas  Polri  dan/atau  personel  Polri  yang  ditunjuk  (untuk tingkat  Mabes  Polri),  Staf  Birobinamitra  dan/atau  personel  Polri  yang ditunjuk (untuk tingkat Polda); c.       perwakilan asosiasi profesi pengamanan  yg disahkan dan ditunjuk oleh Polri dan/atau instansi teknis terkait. (2)     Tim Audit adalah anggota yang ditunjuk oleh Polri dan telah mendapat pelatihan teknis audit serta telah terdaftar dan tersertifikasi dari Birobimmas Polri.

Pasal 70

  (1)     Pelaksanaan audit dilakukan dengan metode : a.       tinjauan seluruh dokumen yang dipersyaratkan;

b.       pemberian pertanyaan kepada pengusaha, pengurus, tenaga kerja, dan masyarakat sekitar, serta pihak terkait lainnya; c.       observasi,   yaitu  pengamatan   langsung   terhadap   suatu  kegiatan  di lapangan dan instalasi terpasang; d.       pengisian parameter penilaian (skoring). (2)     Proses audit meliputi: a.       persyaratan administrasi; b.       sarana dan prasarana; c.       sumber daya manusia; d.       program dan operasional perusahaan. (3)     Parameter penilaian dituangkan secara kuantitatif dan kualitatif. (4)     Badan  audit  wajib  menyampaikan  laporan  audit  lengkap  kepada  Kepala  Biro Bimmas Polri. (5)     Kepala Biro Bimmas Polri melakukan  evaluasi dan penilaian terhadap  laporan audit  yang  telah  masuk  dan  selanjutnya  melaporkan  seluruh  kegiatan  audit kepada Kapolri.

Bagian Kedua

Audit BUJP Pasal 71

Polri melakukan  pengawasan  terhadap  BUJP  melalui  kegiatan  audit  yang  dilakukan secara berkala dan insidentil.

Pasal 72

(1)     Audit BUJP terdiri dari:   a.       audit   kecukupan,    untuk   memastikan    bahwa   semua   persyaratan administratif  dan  ketentuan  perundang-undangan  telah  dipenuhi  oleh calon BUJP atau BUJP untuk  perpanjangan  izin opersional  dari Mabes Polri; b.       audit  kesesuaian  untuk  mendapatkan  atau  memperpanjang  perizinan BUJP yang dilaksanakan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 2 (dua) tahun; c.       audit pengawasan/surveillance BUJP yang dilaksanakan paling sedikit satu kali dalam satu tahun selama masa sertifikat atau perizinan. (2)     Hasil  audit  dituangkan  dalam  bentuk  laporan  auditor  yang ditujukan  kepada  Kepala Birobimmas Polri.

Pasal 73

Dalam rangka pelaksanaan audit BUJP, masing-masing pihak yang terkait mempunyai tanggung jawab sebagai berikut: a.       Polri, melakukan: 1.       penyampaian pemberitahuan pelaksanaan audit kepada BUJP terkait. 2.       penunjukan personel Polri yang dilibatkan dalam tim audit, yaitu untuk tingkat Mabes Polri adalah Staf Birobimmas Polri dan/atau Personel Polri yang ditunjuk dan untuk tingkat Polda adalah Staf Birobinamitra dan atau Personel Polri yang ditunjuk; b.       Tim  audit  menyiapkan  personel  yang  dilibatkan  dalam  tim  audit  dan  sistem prosedur untuk pelaksanaan audit;

Pasal 74

  Dalam rangka audit, BUJP wajib: a.       menyiapkan   personel   pendamping   yang   secara   teknis   berkompeten   di bidangnya, selama kegiatan audit berlangsung; b.       menyiapkan data yang dibutuhkan Tim Audit  terkait dengan bidang usaha yang dijalankan; c.       menyiapkan  laporan  kegiatan  terakhir  yang  meliputi  data  personel,  kegiatan yang dilaksanakan; d.       menandatangani   lembar  kerja  yang  telah  diisi  oleh  auditor  pada  setiap pelaksanaan audit; e.       menyiapkan dukungan fasilitas yang diperlukan dalam rangka kegiatan audit.

Pasal 75

  (1)     Metode  dan parameter  penilaian  audit untuk penerbitan  izin operasional  dan perpanjangannya meliputi; a.       pemeriksaan dokumen; b.       observasi, adalah pengamatan langsung terhadap suatu kegiatan/instalasi terpasang di lapangan; c.       wawancara; dan/atau d.       pengisian parameter penilaian. (2)     Parameter penilaian audit dituangkan secara kuantitatif dan kualitatif. (3)     Parameter  penilaian sebagaimana  dimaksud  pada ayat (2) ditetapkan  dengan Petunjuk teknis.

BAB  VII EVALUASI DAN PENILAIAN

Pasal 76

  (1)     Evaluasi  dan  penilaian  atas  laporan  audit  SMP  dilaksanakan  oleh  Polri  c.q. Birobimmas Polri. (2)     Berdasarkan   hasil   evaluasi   dan   penilaian   tersebut   pada   ayat   (1),   Polri memberikan penghargaan atau tindakan pembinaan sesuai dengan tingkat pencapaian penerapan SMP. (3)     Pemberian penghargaan atau tindakan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditentukan sebagai berikut : a.       0 – 59%,      pencapaian mendapatkan tindakan pembinaan; b.       60 – 84%,    pencapaian mendapatkan penghargaan berupa sertifikat dan plakat perak; c.       85 – 100%,  pencapaian medapatkan penghargaan berupa sertifikat dan plakat emas. (4)     Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dan c, ditandatangani oleh Kapolri dan berlaku untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun. (5)     Mekanisme penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (3), diberlakukan juga untuk audit izin operasional BUJP sebagai berikut: a.       0 – 59 %,     pencapaian tidak mendapat izin operasional.

b. 60 – 84 %,   pencapaian     mendapatkan     izin     operasional dengan
  c. pengawasan setiap 3 (tiga) bulan 1 (satu) kali;  85 – 100%,  pencapaian mendapatkan izin operasional penuh.

(6)     Ketentuan tentang izin operasional sebagaimana dinyatakan pada pasal 65 huruf c dan pasal 66 ayat (2)

Pasal 77

Biaya  pelaksanaan   audit  SMP  dibebankan   kepada   organisasi,   perusahaan   atau instansi/lembaga pemerintah yang diaudit.

BAB  VIII SANKSI

Bagian Kesatu

Pelatihan

 

Pasal 78

(1)   Lembaga pelatihan yang tidak membuat laporan pelaksanaan kegiatan pelatihan sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  24,  dikenakan  sanksi  berupa  peringatan tertulis. (2)   Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah penetapan sanksi peringatan tertulis sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1), lembaga pelatihan  masih belum menyerahkan laporan pelaksanaan kegiatan pelatihan, maka dikenakan sanksi peninjauan kembali terhadap penyelenggaraan pelatihan.

Bagian Kedua

Gam  dan Atribut

 

Pasal 79

(1)     Anggota  Satpam  yang tidak menggunakan  seragam  dan atribut  kewenangan kepolisian terbatas sesuai dengan ketentuan, dikenakan sanksi berupa catatan kondite  bidang  disiplin  yang  dapat  mempengaruhi  penilaian  dalam  rangka reward dan promosi yang bersangkutan. (2)    Ketentuan teknis tentang pemberian sanksi ditentukan oleh manajemen dari pengguna satpam yang bersangkutan. (3)     Bagi  penyelenggara   Satpam   inhouse maupun   badan   usaha   bidang   jasa pengamanan  yang    tidak  memenuhi  ketentuan  dalam  Pasal  25,  dikenakan sanksi: a.       pembinaan, berupa: 1.       teguran tertulis; 2.      perintah untuk mengganti pejabat eksekutif tertinggi di bidang pengamanan   (security manager) disertai  pertimbangan   dalam rangka terjaminnya  kelancaran  dari operasionalisasi  sistim corporate security; b.       dibekukannya   izin  operasional   sampai   dengan   temuan   pada   audit sebelumnya tidak terdapat pada audit ulang.

Bagian Ketiga

Registrasi dan KTA Pasal 80

(1)     Bagi   Satpam   yang   terlambat   dalam   pengurusan   KTA,   dikenakan   sanksi administrasi  berupa  tegoran  tertulis,  apabila  keterlambatan  pengurusan  lebih dari 1 (satu) tahun, maka wajib dilakukan penyegaran dengan cara pelatihan kembali bagi anggota Satpam yang bersangkutan. (2)     Anggota Satpam yang terlibat tindak pidana atau dikeluarkan, maka KTA Satpam harus dicabut dan diserahkan kepada Polres setempat. (3)    Anggota Satpam yang tidak dapat menunjukkan KTA Satpam pada waktu melaksanakan  tugas,  dikenakan  pembekuan  sementara  aktivitasnya  sampai dapat menunjukkan KTA. (4)     Anggota  Satpam  yang  menggunakan  KTA  palsu  dapat  dikenakan  ketentuan pidana yang berlaku.

 Bagian Keempat

BUJP Pasal 81

(1)     BUJP  yang  tidak  membuat  laporan  setiap  semester  sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1) huruf c, selama 2 (dua) kali berturut-turut, dikenakan sanksi berupa teguran. (2)     BUJP yang tidak memperpanjang Surat Izin Operasional sebagaimana dimaksud dalam  Pasal  66  ayat  (2),  dalam  jangka  waktu  3 (tiga)  bulan  setelah  masa berlaku Surat Izin Operasional berakhir, dikenakan sanksi pembekuan Surat Izin Operasional. (3)     Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah penetapan sanksi pembekuan Surat Izin Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2), BUJP tidak mengajukan perpanjangan Surat Izin Operasional, maka dikenakan sanksi pembatalan Surat Izin Operasional.

 Pasal 82

(1)      BUJP  yang  tidak  memenuhi  parameter  penilaian  yang  dihasilkan  oleh  Tim Auditor    berdasarkan  metode  audit  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  70, maka izin operasionalnya ditangguhkan penerbitannya. (2)      BUJP yang ditangguhkan izin operasionalnya wajib mengikuti pembinaan sesuai dengan rekomendasi yang ditetapkan oleh Tim Auditor.

BAB  IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 83

(1)     Peraturan  ini merupakan  pedoman  bagi penyusunan  berbagai  standar  teknis keamanan, keselamatan untuk masing masing Organisasi, Perusahaan, dan/atau Instansi/Lembaga Pemerintah. (2)     Pada saat Peraturan ini mulai berlaku seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan  pengamanan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan ini. (3)     Perubahan atau penambahan  sesuai perkembangan  unsur-unsur  sebagaimana dimaksud ayat (2)  pasal ini diatur tersendiri oleh Kapolri.

Pasal 84

 

Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Agar  setiap  orang  mengetahuinya,  Peraturan  Kapolri  ini  ditempatkan  dalam  Berita Negara Republik Indonesia

Ditetapkan di  Jakarta

pada tanggal   10 Desember 2007

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA, CAP/TTD

  Drs. SUTANTO  

JENDERAL  POLISI

  Diundangkan di Jakarta Pada tanggal                       2007   MENTERI  HUKUM  DAN  HAM REPUBLIK INDONESIA,         ANDI MATTALATTA     BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN        NOMOR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *